Wednesday, May 23, 2012

Mungkin re-post, tapi untuk mengingatkan kembali...

Profesor:"Apakah Tuhan menciptakan segala yg ada?"
Seorg mahasiswa:"Betul, Dia yg menciptakan semuanya"
"Tuhan menciptakan semuanya??" tanya profesor sekali lagi
"Ya pak, semuanya" kata mahasiswa itu
Profesor menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan..."

Mahasiswa itu terdiam& tidak bisa menjawab hipotesis profesor tersebut.
Mahasiswa lain berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu ?"
"Tentu saja," jawab si Profesor
Mahasiswa : "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu ? Tentu saja dingin itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu-460F adalah ketiadaan panas sama sekali& semua partikel menjadi diam& tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin utk mendeskripsikan ketiadaan panas".

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada ?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tdk ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.
Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya jadi beberapa warna& mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tak bisa mengukur gelap.
Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja !"
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu TIDAK ADA.. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.
Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yg dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan
Tuhan tak menciptakan kejahatan..
Kejahatan adalah hasil dari tak adanya Tuhan dihati manusia..."
Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu Albert Einsten

Wednesday, May 16, 2012

Faith and Hope

We are dead in sin.
But God is so graceful to send His only son to us.
Died of Jesus Christ gave us life as God's grace, love and mercy.
As Jesus Christ won from dead, it declared our faith.
As Jesus Christ rose to Heaven, it declared our hope.
Sent from my BlackBerry® smartphone approved by God.

Sunday, April 29, 2012

Pertanyaan.

Matahari bertanya pada TUHAN:
"untuk siapa aku bersinar?"

Bulan juga bertanya:
"untuk siapa aku bercahaya?"

Pelangi pun bertanya:
"untuk siapa keindahanku?"

Angin ikut bertanya:
"untuk siapa aku berhembus?"

Dan YESUS pun bertanya pada BAPA:
"untuk siapa AKU disalib?"

Dan BAPA menjawab:
"untuk anakKU yang membaca sms ini & untuk KemulianNYA.


DAMAI d'HATI. . .

Gbu Always

Sent from my BlackBerry® smartphone approved by God.

Hidup merupakan pilihan.

Hidup adalah sebuah pilihan
Jerry adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia
selalu dalam semangat yangbaik dan selalu punya hal
positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya
kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia
akan selalu menjawab, " Jika aku dapat yang lebih
baik, aku lebih suka menjadi orang kembar!"
Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah
kerja, sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari
satu restoran ke restoran yang lain. Alasan mengapa
para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry
adalah karena sikapnya.

Jerry adalah seorang motivator alami. jika karyawannya
sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di
sana, memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat
sisi positif dari situasi yang tengah dialamai.

Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku
penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan
bertanya padanya, "Aku tidak mengerti! Tidak mungkin
seseorang menjadi orang yang berpikiran positif
sepanjang waktu.

Bagaimana kamu dapat melakukannya?" Jerry menjawab,
"Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku
punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk
ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam
suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana
yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat
memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari
kejadian itu. Aku selalu memilih
belajar dari hal itu. Setiap ada sesorang menyampaikan
keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan
mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya..
Aku selalu memilih sisi positifnya."

"Tetapi tidak selalu semudah itu," protesku. "Ya,
memang begitu," kata Jerry, "Hidup adalah sebuah
pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap
keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana
bereaksi terhadap semua keadaan.
Kamu memilih bagaimana orang-orang disekelilingmu
terpengaruh oleh keadaanmu.
Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau
buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup."

Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami
musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam
bisnis restoran: membiarkan pintu belakang tidak
terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang
bersenjata. Saat mencoba membuka brankas, tangannya
gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor
kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya.
Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke
rumah sakit.

Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu
perawatan intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah
sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di
dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan setelah
musibah tersebut.

Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia
menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih
suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas
luka-lukaku?" Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya,
tetapi aku masih juga bertanya apa yang
dia pikirkan saat terjadinya perampokan.

"Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah
bahwa aku harus mengunci pintu belakang," jawab Jerry.
"Kemudian setelah mereka menembak dan aku
tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua
pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku
memilih untuk hidup."

"Apakah kamu tidak takut?" tanyaku. Jerry melanjutkan,
" Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa
aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang
gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter
dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata 'Orang
ini akan mati'. Aku tahu aku harus mengambil
tindakan."

"Apa yang kamu lakukan?" tanya saya. "Disana ada
suster gemuk yang bertanya padaku," kata Jerry. "Dia
bertanya apakah aku punya alergi. 'Ya' jawabku..

Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka
menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan
berteriak, 'Peluru!' Ditengah tertawa mereka aku
katakan, ' Aku memilih untuk hidup. Tolong aku
dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati'."

Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi
juga karena sikapnya hidupnya yang mengagumkan. Aku
belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih
apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya.

Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa
dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu,
sehingga jika kamu bisa mengendalikannya dan segala
hal
dalam hidup akan jadi lebih mudah.

Sent from my BlackBerry® smartphone approved by God.

Amsal 17:17

Amsal 17:17 Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Seberapa jauh anda mengenal teman-teman anda? Apakah mereka berkumpul hanya ketika anda di dalam kesenangan? Dan mereka menghilang ketika anda berada dalam kesulitan, kegundahan ataupun pergumulan?

Bisakah anda menghitung berapa teman anda yang masih bersama anda ketika anda berada di dalam masa-masa tersulit di hidup anda? Hanya satu tangan masih bisa menghitung mereka, atau butuh dua tangan, bahkan kaki, dan tangan teman anda yg lain?

Mungkinkah beberapa teman anda malah "menusuk" anda dari belakang di tengah-tengah pergumulan anda dengan kehidupan?

Ada sifat dasar dari jiwa manusia. Iri hati dan keegoisan. Tidak bisa disangkal, keduanya selalu bertumbuh dan berkembang seiring dengan perjalanan hidup setiap manusia. Ketika keduanya tumbah cukup besar, mereka akan membentuk diri anda untuk memangsa sesama. Anda akan berusaha selalu berada di "atas" dan tidak mau melihat ke sekeliling apa lagi ke "bawah".

Tekan pertumbuhannya, jagalah untuk tetap manjadi "bonsai". Saat itu, anda dapat melihat sekeliling anda tanpa terhalang oleh "pohon" iri hati dan egois anda. Dan bantulah teman-teman anda untuk memangkas "pohon-pohon" mereka. Dari sana akan terlihat teman-teman sejati mereka.

Jika masih butuh contoh, lihatlah kepada Yesus, yang sama sekali tidak memelihara "pohon" iri maupun egois. Hanya Dia yang mampu mencabut pohon itu sampai ke akarnya.

Tuhan berkati....

Sent from my BlackBerry® smartphone approved by God.